Bandel Pakai Pita Kuning, Begini Sikap Keras Guardiola

Bandel Pakai Pita Kuning, Begini Sikap Keras Guardiola

bandel-pakai-pita-kuning-begini-sikap-keras-guardiola-3VJ

Taruhan Bola Online,Agen Bola,Bandar Bola,Judi Bola – Pelatih Pep Guardiola tak menghiraukan hukuman Asosiasi Sepak Bola Inggris (FA). Mantan bos Barcelona itu tetap menggunakan pita kuning saat membawa Manchester City melakoni laga final Piala Liga Inggris kontra Arsenal di Stadion Wembley, Minggu (25/2/2018).

Baca Juga :Preview Arema vs Borneo: Ajang Uji Coba Pemain

FA menghukum Guardiola, Kamis (22/2/2018) setelah menilai pita kuning yang dikenakan Guardiola di jaketnya adalah sebagai bentuk pesan solidaritas untuk pembebasan politisi prokemerdekaan Catalonia, Jordi Sanchez dan Jordi Cuixart, yang dipenjara pemerintah Spanyol, pada Oktober lalu.

Guardiola dinyatakan bersalah mengenakan pakaian yang menampilkan pesan politik. Mantan pelatih Barcelona itu memiliki waktu sampai Senin, 5 Maret, pukul 19.00 waktu Eropa, untuk membela diri atau merespons hukuman FA.

Ketika ditanya wartawan, Guardiola mempertahankan sikapnya dengan keras. “Saya menerima jika saya disebut melanggar peraturan. Saya menerima denda, saya adalah manusia, dan ini tentang kemanusiaan. Hanya karena hasutan, ada empat orang di penjara, ditambah orang lain (di pengasingan). Tapi untuk itu melawan itu, Anda harus memiliki senjata , dan kami tidak memiliki senjata,” ujar Guardiola.

“Kami hanya memiliki suara di kotak suara. Ini (pita kuning) selalu bersama saya, selalu akan bersama saya hingga akhir. Sebab, ini bukan tentang politik, ini tentang orang-orang yang tidak melakukan apapun, tentang demokrasi.”

Aksi Guardiola menuai simpati penggemar Manchester City yang juga mengenakan pita kuning tersebut di Wembley pada laga final Piala Liga Inggris versus Arsenal, Minggu (25/2/2018). City meraih gelar juara setelah menang 3-0.

Mahkamah Agung Spanyol memerintahkan penangkapan mantan anggota parlemen Catalan Anna Gabriel pekan lalu setelah dia mangkir di pengadilan untuk menjawab tuduhan terkait kampanye kemerdekaan wilayah tersebut.

Mantan presiden Catalan Carles Puigdemont melarikan diri dari Spanyol sesaat setelah Catalonia mendeklarasikan kemerdekaannya pada bulan Oktober. Dia tetap tinggal di pengasingan di Brussels dengan empat anggota kabinetnya.

Semua menghadapi tuduhan serupa seperti Gabriel untuk peran mereka dalam dorongan kemerdekaan.
(sha)