Ada yang Berubah dari Leicester si Rubah Sebelum dan Sesudah Natal

Ada yang Berubah dari Leicester si Rubah Sebelum dan Sesudah Natal

Ada yang Berubah dari Leicester si Rubah Sebelum dan Sesudah Natal

Jakarta – Di paruh pertama musim Leicester City menghentak lewat bantuan ketajaman lini depan. Di paruh kedua giliran lini bertahan ‘Si Rubah’ yang berperan.

Leicester, yang musim lalu masih berkutat di urutan buncit sampai awal April, sejauh ini masih bertengger di puncak klasemen Premier League dengan keunggulan lima angka dari rival terdekat.

Puncak klasemen bukan sesuatu yang asing untuk The Foxes musim ini. Sejak musim dimulai sampai tepat sebelum Natal, Leicester memimpin klasemen pada tujuh pekan–dari 17 pertandingan.

Pada periode tersebut Sky Sports mencatatat Leicester membuat total 37 gol, signifikan terbantu rentetan gol Jamie Vardy yang rutin mencetak gol dalam 11 pertandingan beruntun dari 29 Agustus-28 November–sebuah rekor baru Premier League.

Secara bersamaan, Leicester justru terlihat tak meyakinkan-meyakinkan amat di belakang setelah kebobolan 24 gol di dalam 17 pertandingan tersebut–yang disebut sama dengan jumlah Swansea City di papan bawah.

Leicester bahkan baru mampu membuat clean sheet pada Pekan 10, ketika menang 1-0 saat menjamu Crystal Palace dengan satu-satunya gol dalam laga tersebut dibuat oleh Vardy.

Menariknya, Leicester kemudian bertransformasi setelah Natal. Ketika gol-gol tidak lagi mengalir selancar sebelumnya, timnya Claudio Ranieri memperlihatkan diri sebagai tim yang solid di lini belakang.

Sejak Natal sampai saat ini, Leicester cuma membuat 17 gol dalam 14 pertandingan. Luar biasanya, dalam periode yang sama Leicester cuma kebobolan tujuh gol saja!

Penurunan jumlah gol yang turut dibarengi dengan menurunnya jumlah kebobolan itu turut membantu Leicester mencatatkan rata-rata poin yang relatif konsisten sebelum dan sesudah Natal (dari 2,4 sebelum Natal dan 2 setelahnya).

Salah satu contoh konkret anyar mengenai hal tersebut adalah keberhasilan Leicester menang 1-0 di dalam empat dari lima laga terakhirnya di Premier League saat ini.

“Ketika kami sudah mampu membuat clean sheet pertama, tersemenlah pikiran di benak bahwa menjaga agar bisa clean sheet merupakan sebuah fondasi bagus,” ucap kiper cadangan Leicester Mark Schwarzer kepada Sky Sports.

“Kami punya pemain-pemain yang akan senantiasa mencetak gol, jadi kalau kami bisa membuat clean sheet ketika musim bertambah ketat dan tekanan mulai menumpuk, kami tetap berpeluang memenangi pertandingan,” lanjutnya.

Leicester kini memiliki tujuh laga sisa untuk terus melanjutkan catatan bagusnya tersebut guna mempertahankan posisinya dan juara.